Rumah Rusak Berat, Keluarga Warsidi Terpaksa Mengungsi di Kandang Kambing

oleh -25 views
Pergerakan Tanah
Sutini menunjukkan tembok rumahnya yang rusak akibat pergeseran tanah. FOTO: M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN-Hujan deras yang terjadi pada Senin (20/1) alam lalu ternyata menjadi mimpi buruk bagi keluarga Warsidi (60) warga Dusun Cipeuteuy, Desa Pakapasan Girang, Kecamatan Hantara.

Rumah sangat sederhana yang ditempati Warsidi bersama istri dan dua anaknya rusak berat akibat pergerakan tanah, sehingga memaksa keluarga miskin ini pun harus mengungsi ke gubuk reot yang menyatu dengan kandang kambing tak jauh dari rumahnya.

Ditemui di gubuknya, Radar Kuningan hanya bertemu dengan istri Warsidi bernama Sutini (51). Sementara Warsidi dan dua anak laki-lakinya yang sudah beranjak dewasa tengah mencari rumput untuk belasan ekor kambing milik tetangganya yang sudah bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan mereka dari sistem bagi hasil. “Rumah satu-satunya yang kami tempati rusak akibat longsor Senin malam lalu. Karena khawatir ambruk, terpaksa kami tinggal di saung dekat kandang kambing ini,” ungkap Sutini sedih.

Sudah empat malam, Sutini dan suami serta dua anaknya harus berbagi tempat tidur di saung butut yang dibuat tingkat berukuran 2×3 meter saja. Bau kotoran kambing dan lingkungan kebun yang lembab tak menjadi penghalang untuk Sutini dan keluarganya ini melewati malam yang dingin. “Sebetulnya kami sudah disuruh menempati rumah warga yang kosong, namun kami tidak mau merepotkan. Tak apa-apa kami tinggal di kandang kambing ini juga,” lirih Sutini.

Sutini menceritakan, keberadaan rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat bernaung keluarga kecilnya ini pun sebenarnya sudah lama rusak. Beberapa bagian temboknya sudah terlihat ada retakan-retakan kecil akibat pergerakan tanah saat musim hujan lalu, namun karena keterbatasan ekonomi menyebabkan kerusakan tersebut belum pernah diperbaiki.

“Terutama kamar depan yang ditempati anak saya sudah lama tidak bisa ditempati, sehingga kami pun tidur di ruang tengah dan kamar belakang. Namun hujan deras pada Senin malam kemarin menyebabkan retakan-retakan di rumah saya semakin besar dan bertambah di dapur, ruang tengah dan juga kamar mandi,” turut Sutini.

Selama ini, kata Sutini, gubuk reot di kandang kambing tersebut hanya dijadikan tempat beristirahat suami dan anak-anaknya usai mencari rumput untuk pakan kambing-kambingnya. Namun demikian, karena satu-satunya rumah mereka kini kondisinya sudah sangat memperihatinkan dan membahayakan, maka saung butut ini pun menjadi solusinya. “Kemarin sudah ada dari BPBD memeriksa kondisi rumah saya. Mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah kami sehingga kami tak perlu lagi tinggal di kandang kambing seperti ini,” harap Sutini.

Pasalnya, lanjut Sutini, suaminya Warsidi yang kini sudah sepuh dan dua anak laki-lakinya tidak punya penghasilan yang cukup untuk memperbaiki rumah. Sehari-hari mereka bekerja mencari rumput untuk kambing-kambing milik tetangganya dan untuk makan sehari-hari dari hasil kuli serabutan.

“Kambing-kambing ini istilahnya paparon. Kalau beranak dua, kami dapat bagian satu ekor. Itu pun baru dijual setelah berusia tiga hingga empat tahun. Untuk sehari-hari kami hanya mengandalkan dari hasil kuli macul di kebun orang lain. Mudah-mudahan kesusahan kami ini didengar oleh pemerintah agar rumah kami bisa diperbaiki,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dusun Cipeuteuy Kusnadi mengatakan, pihaknya telah meninjau kondisi rumah keluarga Warsidi yang rusak akibat pergeseran tanah tersebut. Pihaknya pun tengah mengupayakan agar rumah keluarga Warsidi yang kini sudah tidak layak huni tersebut bisa mendapat bantuan.

“Dari perangkat desa juga sudah meninjau rumah Pak Warsidi. Kami sudah merencanakan untuk perbaikan sementara menggunakan bahan GRC atau lainnya. Mudah-mudahan secepatnya bisa terealisasi,” ujar Kusnadi saat ditemui di kantor Desa Pakapasan Girang mewakili kades yang tengah menghadiri musrenbang di Kecamatan Hantara. (fik)

No More Posts Available.

No more pages to load.