Refocusing, Pokir Dipotong 35 persen

oleh -37 views
pad-lagi
Ilustrasi-PAD

KUNINGAN – Pandemi Covid-19 memberikan dampak luar biasa terhadap berbagai sektor perekonomian daerah. Bahkan akibat pandemi ini, pendapatan asli daerah (PAD) disebut-sebut sulit mencapai target yang telah direncanakan sebelumnya. Sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung PAD juga terdampak pandemi.

Di samping itu, puluhan ribu warga Kuningan yang berusaha di sektor informal di berbagai daerah di Indonesia terpaksa pulang kampung lantaran tidak lagi bisa berusaha. Belum lagi perekonomian daerah yang benar-benar mengalami stagnasi akibat pandemic Covid-19.

“Kondisi pandemi Covid-19 ini punya dampak yang sangat luar biasa. Tidak hanya dari satu sisi, namun dari berbagai sektor terkena dampaknya,” tegas Wakil Ketua DPRD Kuningan H Ujang Kosasih MSi saat ditemui awak media, Rabu (13/5).

Ujang menyebutkan, beberapa sektor itu di antaranya bidang kesehatan. Bahwa jelas ketika tidak mengikuti anjuran pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19, maka rentan terpapar virus corona. “Kemudian faktor ekonomi, jelas berapa puluh ribu di Indonesia para pekerja dari berbagai perusahaan terpaksa dirumahkan atau bahkan di-PHK. Ini akibat apa, jelas dampak dari Covid-19,” tandasnya.

Tak hanya itu, perusahaan-perusahaan rumah makan yang tidak beroperasi akibat pandemi Covid-19 juga sangat banyak. Sebagian besar pengusaha atau pelaku ekonomi kini sulit berjualan karena dampak corona.

“Belum lagi pelaku usaha perhotelan hingga pariwisata, semua terkena dampaknya. Termasuk dari sektor sosial, pasti juga terkena dampak dari wabah Covid-19,” ujar pria yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kuningan tersebut.

Kaitan dengan APBD Kuningan, Ujang melihat jika pendapatan daerah tidak akan mencapai target. Sebab banyak sumber-sumber pendapatan yang terdampak adanya Covid-19.

“APBD ini kan posturnya dari pendapatan asli daerah, pendapatan dari pusat, pendapatan provinsi dan pendapatan lain-lain yang sah. PAD pasti akan sangat terpengaruh karena pandemi Covid-19. Rumah makan tidak bisa berjalan seperti biasanya, hotel-hotel tidak ramai seperti biasanya. Bahkan tempat wisata mengalami penutupan,” katanya.

Beberapa hal itu, lanjut dia, menjadi sumber-sumber PAD bagi kepentingan pembangunan daerah. “Sebab setiap pungutan pajak dari sektor tersebut menjadi pendapatan daerah. Kalau para pelaku usaha atau wisata itu tutup, ya bagaimana mau membayar pajak, jadi otomatis berdampak terhadap pemasukan daerah,” terangnya.

Dia memperkirakan, target pendapatan daerah yang telah direncanakan untuk tahun 2020 tidak akan tercapai. Bahkan pendapatan lain yang bersumber dari pusat juga terpaksa ada pemotongan anggaran.

“Pendapatan lain yang bersumber dari APBN seperti DAU (Dana Alokasi Umum) juga dipotong akibat Covid-19. Ada berapa puluh miliar bahkan ratusan miliar DAU menurut Peraturan Menteri Keuangan dipotong, jelas berdampak terhadap pendapatan di APBD kita,” ungkapnya.

Akibatnya, kata Ujang, banyak agenda kedewanan bahkan proyek-proyek pembangunan yang telah direncanakan tahun ini menjadi terhambat. “Banyak agenda kegiatan yang akhirnya ditunda, kemudian di-refocusing untuk penanganan Covid-19. Ya termasuk pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD juga dipotong kurang lebih 35 persen, itu harus di-refocusing untuk penanganan pandemi ini,” jelas Ujang.

Sementara itu, Kepala BPKAD Kabupaten Kuningan Dr Asep Taufik Rohman MSi membenarkan jika anggaran di seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mengalami pemotongan, sesuai instruksi dari pemerintah pusat. Persentase pemotongan seluruhnya sama di seluruh SKPD.

“Pemotongan anggaran di seluruh SKPD ini dilakukan karena ada instruksi dari pemerintah pusat. Anggarannya digunakan untuk penanganan Covid-19 di Kabupaten Kuningan,” sebut Taufik. (ags)

No More Posts Available.

No more pages to load.