Polemik Kebutuhan Energi di Indonesia

oleh -38 views

KUNINGAN- Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) paling banyak digunakan di Indonesia.
PLTU memanfaatkan energi uap dari hasil kinerja pompa air yang menyatu dengan batu bara serta minyak.
Hasil pemanasan tersebut nantinya akan dibakar kemudian disemprotkan menjadi energi uap. “Nah, energi ini nantinya akan menggerakkan turbin pada generator mesin yang akhirnya akan menghasilkan energi listrik yang disimpan pada generator,” jelas Indah Uchul, pegiat lingkungan Kuningan.

Dari semua jenis pembangkit listrik, kata Indah, PLTU adalah salah satu pembangkit yang sangat tidak ramah lingkungan. “Mengapa? Karena, energi uap yang dihasilkan oleh pembangkit ini cukup berbahaya apabila dihirup oleh makhluk hidup di sekitarnya. Gambaran ini bisa kita lihat dalam Film Sexy Killers karya Dandy Laksono,” katanya.

Dan yang namanya energi fosil itu tidak sustainable. Artinya, lama-kelamaan jika terus dipergunakan maka akan habis atau dengan kata lain tidak berkelanjutan. Maka dari itu harus ada ssolusi alternatif dari situasi tersebut demi keberlangsungan lingkungan.

Sekali lagi, lanjut Nina, perlu alternatif energi baru yang sustainable sebagai pengganti PLTU.
Namun lagi-lagi Energi Baru Terbarukan belum menyelesaikan masalah secara signifikan. Dan kebanyakan masalahnya adalah salah paham di masyarakat terkait pemanfaatan EBT ini.

Menurutnya, yang berkembang saat ini adalah pemanfaatan Geothermal atau panas bumi untuk pembangkit listrik. “Sederhananya, untuk menjadi listrik, jika kita pergunakan panas bumi ini, dia tidak akan melewati proses pembakaran yang asapnya dan bahan bakarnya bisa merusak lingkungan seperti batubara. Jelas ini lebih minim kerusakan lingkungan,” tegas dia.

Daripada energi yang selama ini dipakai yaitu menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya, energi terbarukan bisa menjadi solusi. “Coba lihat dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan tambang batu bara. Hutan jadi gundul, daerah sekitar jadi rawan banjir atau mungkin sudah banjir, dan ketika kegiatan tambang itu terus menerus dilakukan bukan hanya masyarakat sekitar tambang saja yang dirugikan, efek Global Warming tidak pandang bulu,” papar Indah.

Bumi yang rusak. Jadi PLTU lah yang menjadi penyebab rusaknya alam. Karena itu, sudah saatnya membuka pemikiran, berfikir lebih bijaksana. “Ini bukan cuma tentang Kuningan. Jauh daripada itu, saat kita beralih pada energi baru terbarukan dalam hal ini pemanfaatan Geothermal, kita sudah menyelamatkan bumi kita dari kerusakan yang lebih parah. Kita menyelamatkan kehidupan banyak orang. Gak ada lagi kecamatan yang terendam seperti Jati Gede, hutan gundul dan orang utan mati di Kalimantan, dan Jakarta yang makin hari makin panas,” paparnya.

Jadi, tambah Indah, nasyarakat harus tenang dan cermat terkait rencana pembangunan geothermal ini. Yang paling penting adalah pelajari secara terperinci dan Comparasi antara PLTU dan PLTN dan EBT.

Jangan sampai ditunggangi para pihak yang berkepentingan yaitu persaingan investor, kepentingan politik atau kepentingan pribadi lainnya. “Mari kedepankan kepentingan bersama dalam hal kesejahteraan dan kepentingan masyarakat luas dalam hal ini,” ajaknya.

Pembangunan semuanya tidak bisa dipungkiri menimbulkan dampak namun yang penting bagaimana kita dapat meminimàlisir dampak sosial dari persaingan dan cara berpikir yang tidak sehat. Sekali lagi mari secara bersama kawal prosesnya, dan kawal juga nanti pengelolaannya demi terwujudnya energi bersih dan berkeadilan. (fik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.