Petani dari Tiga Desa Ontrog OW Linggarjati

oleh -24 views
DIREDAM: Kades Linggarjati Unang memberikan arahan kepada para petani terkait penyelesaian air irigasi di OW Linggarjati, kemarin (31/1).

KUNINGAN – Puluhan petani dari Desa Linggarjati, Linggamekar dan Linggaindah, Kecamatan Cilimus, mendatangi Objek Wisata (OW) Linggarjati Indah, Jumat (31/1) pagi. Mereka ingin mengontrol keberadaan mata air Cibulakan di dalam kawasan objek wisata yang sejak tujuh bulan terakhir ini mengalami penurunan debit air drastis hingga berdampak pada ratusan hektare sawah di tiga desa tersebut.

Sambil membawa cangkul, sabit dan golok, warga berbondong-bondong mendatangi balong mata air Cibulakan untuk mencari tahu penyebab keringnya saluran irigasi untuk pertanian mereka. Benar saja, saat tiba di sumber mata air tersebut para petani dibuat kaget dengan keberadaan dua pipa baru berukuran besar menyedot air balong Cibulakan.

“Pantas saja air untuk pertanian berkurang, ternyata ada dua pipa besar menyedot air balong Cibulakan. Kami tidak tahu pipa ini punya siapa, sepertinya untuk usaha pribadi depot pengisian air tangki,” ungkap Sunaryo, salah satu petani asal Desa Linggamekar.

Tak ingin aksi warga berlanjut anarkis, Kepala Desa Linggarjati Unang tiba di lokasi bersama sejumlah anggota dari Polsek Cilimus menemui warga. Melihat kondisi tersebut, Kades Linggarjati pun menenangkan warga dan meminta semuanya duduk berkumpul di sekitar balong Cibulakan untuk diberi pengarahan.

“Kami minta para petani tetap tenang dan menghadapi persoalan ini dengan kepala dingin. Kita semua sekarang sudah tahu penyebab terhambatnya aliran air untuk sawah di Desa Linggarjati, Linggamekar dan Linggaindah ada di mata air Cibulakan ini. Jadi saya minta kepada semuanya agar menyerahkan penyelesaian persoalan ini kepada saya untuk membicarakan dengan pihak terkait,” ungkap Unang di hadapan para petani.

Unang berjanji dalam waktu dekat menyelesaikan masalah air irigasi Cibulakan ini sehingga saluran irigasi bisa kembali mengalirkan air untuk persawahan di tiga desa tersebut. “Silakan bapak-bapak kembali ke rumah masing-masing, sambil berjalan pulang membenahi saluran irigasi dari batu dan sampah yang menghalangi. Sementara saya akan melaksanakan tugas menyelesaikan permasalahan di mata air Cibulakan ini dengan pihak terkait,” ujar Unang.

Sementara itu, Ketua Mitra Cai Linggarjati Sukana mengatakan, sudah dua tahun ini para petani di tiga desa yakni Linggarjati, Linggamekar dan Linggaindah mengalami kesulitan menggarap lahan pertanian akibat volume air irigsi dari mata air Cibulakan sudah semakin surut. Dia menyebutkan, ada ratusan bahkan ribuan hektare lahan pertanian di tiga desa tersebut yang kini tak bisa digarap karena sulit mendapat pengairan.

“Kalau musim kemarau sudah dipastikan air tidak lagi mengalir. Namun yang kami heran, di saat musim tanam seperti sekarang ternyata air masih belum mengalir, sehingga para petani banyak yang mengeluh dan mengadu ke saya untuk mencari tahu penyebabnya. Sekarang kita saksikan bersama, ternyata ada tambahan dua pipa berukuran besar di Cibulakan entah punya siapa seenaknya menyedot air untuk pertanian,” tegas Sukana.

Sukana selaku perwakilan para petani telah menyerahkan permasalahan ini kepada Kades Linggarjati untuk bisa menyelesaikan permasalahan ini secepatnya. Dia khawatir, jika hingga beberapa waktu ternyata permasalahan ini tidak kunjung teratasi, bisa membuat para petani tak bisa lagi membendung kekesalannya sehingga berlanjut pada aksi lebih parah.

“Mudah-mudahan Pak Kuwu Linggarjati bisa menangani persoalan air irigasi ini secepatnya. Karena sekarang petani sudah tak sabar lahannya belum bisa digarap, padahal sekarang sudah musim tanam. Kalau hingga beberapa waktu ke depan tidak juga terselesaikan, jangan salahkan nanti kami datang lagi ke sini dan menyelesaikannya dengan cara kami,” tegas Sukana.

Ketua BPD Linggamekar Iwan menambahkan, sebelumnya di sumber mata air Cibulakan memang sudah ada satu pipa besar untuk memenuhi kebutuhan PDAM Cirebon, namun tidak terlalu berdampak pada pertanian di tiga desa tersebut. Persoalan terjadi sekitar dua tahun terakhir, setelah ada dua pipa tambahan sehingga mulai terasa debit air untuk irigasi mengalami penurunan cukup drastis.

“Sampai-sampai para petani akhirnya melakukan giliran pengairan. Tidak sedikit kondisi ini berdampak gesekan di antara para petani, padahal sebelumnya kami hidup damai. Bahkan di Desa Linggamekar ada areal pertanian di Lamping Munjul sudah sama sekali tidak dapat pengairan. Sudah ratusan hektare lahan pertanian di desa kami yang sudah tidak bisa digarap, dan kolam-kolam pun mengering. Mudah-mudahan ini bisa menjadi perhatian dari pemerintah desa bahkan Pemkab Kuningan untuk bisa menyelesaikan persoalan ini,” papar Iwan. (fik)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.