Menabung Sampah untuk Umrah

oleh -9 views
ATASI SAMPAH: Ketua TP PKK Kuningan Hj Ika Acep Purnama, saat mengunjungi salah satu RW di Kelurahan Winduhaji, dalam rangka sosialisasi penanganan sampah dengan Bank Sampah, kemarin. Foto : Mumuh Muhyiddin/Radar Kuningan

KUNINGAN – Permasalahan sampah di wilayah perkotaan Kabupaten Kuningan, belum sepenuhnya bisa teratasi dengan pelayanan yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Justru DLH semakin kewalahan, karena volume sampah semakin hari kian bertambah.

Hingga saat ini, belum juga ada solusi jitu untuk mengatasi persoalan sampah yang tidak bisa dibendung. Kendati belum menemukan formula ampuh dalam penanganannya, DLH bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan Hj Ika Acep Purnama tetap malaksanakan upaya agar timbunan sampah berkurang.

Salah satu upaya tersebut, yakni dengan melaksanakan penyadaran kepada masyarakat perkotaan. Di antaranya di Kelurahan Winduhaji, Kuningan dan Cirendang sebagai titik tolak kegiatan.

Ketiga kelurahan tersebut, mewakili daerah timur perkotaan, pusat kota dan bagian utara perkotaan. Bentuk penyadarannya diperkecil dengan mendatangi wilayah rukun warga (RW), dengan tujuan bisa bertemu dengan masyarakat secara langsung.

“Kami tetap bekerja silent ke RW – RW di Kelurahan Winduhaji, Kuningan dan Cirendang di masa pandemi Covid-19. Bekerja dengan protokol kesehatan yang ketat. Cukup dengan jumlah orang antara sepuluh atau paling banyak dua puluh. Karena wilayahnya diperkecil, sehingga bisa menyentuh langsung ibu rumah tangga,” papar Hj Ika Acep Purnama.

“Kenapa ke setiap RW? Kalau hanya sosialisasi di tingkat kelurahan kurang mengena. Yang saya inginkan, adanya perubahan perilaku terhadap pengelolaan sampah sampai ke tingkat dasar RT dan RW. Sehingga mereka langsung melaksanakan pemilahan sampah organik dan anorganik,” imbuhnya.

Menurut Ika, saat mereka melaksanakan pemilahan, maka akan disadari bahwa sampah ada nilai ekonomisnya. Sampah anorganik dapat dijual kembali, baik langsung ke pengepul maupun ke Bank Sampah. Dengan demikian, residu dari sampah rumah tangga tinggal yang organiknya saja. Secara otomatis volume timbunannya pun berkurang.

“Harapannya, masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, baik ke sungai maupun ke trotoar hanya untuk diangkut ke TPA. Harapan lainnya, masyarakat perkotaan memahami dan menyadari adanya fungsi Bank Sampah sebagai sarana menabung sampah, yang peruntukannya bisa apa saja. Seperti bayar PBB, BPJS, bahkan umrah sekalipun,” tuturnya.

Sementara itu, Arif Komara, Direktur Marketing Bank Kuningan, mengiyakan apa yang disampaikan Hj Ika Acep Purnama. Pihaknya telah bekerjasama dengan DLH Kabupaten Kuningan terkait Bank Sampah. Bank Kuningan selaku Perumda mendorong dan memfasilitasi masyarakat dengan Tabungan Bank Sampah.

“Diharapkan dari sosialisasi yang sudah dilaksanakan di lima RW Kelurahan Winduhaji dan Kuningan, masyarakat membentuk Bank Sampah di RW masing-masing. Kami nantinya akan mengeluarkan buku tabungan sampah dari Bank Sampah. Salah satu program unggulan dari tabungan sampah ini yaitu Tabungan Sampah untuk Umrah,” terangnya.

Tabungan sampah ini, kata Arif, bisa untuk bayar PBB, BPJS, emas sesuai nilai yang ditabungkan. Misalnya Tabungan Unggulan Sampah untuk Umrah. Teknisnya, minimal si penabung sampah nilainya setengah dari bayar umrah bisa berangkat.

“Pertanyaannya, bagaimana sisanya? Kita akan membantu pembiayaan keberangkatannya dengan catatan. Si penabung harus melaksanakan kewajiban menabung sampah senilai yang sudah disepekati setelah pulang dari umrah,” terangnya.

Kepala DLH Kabupaten Kuningan Wawan Setiawan SHut MT menambahkan, dalam program pengurangan sampah pihaknya juga telah bekerja sama dengan Bank Kuningan untuk Tabungan Bank Sampah. Selain bekerjasama dengan Bank Kuningan, pihaknya pun tengah melakukan penjajakan dengan Perumda Aneka Usaha atau PDAU Kabupaten Kuningan dalam penanganan sampahnya.

“Untuk saat ini, Bank Sampah merupakan solusi efektif untuk pengurangan timbunan sampah yang sudah overload. Bersama Ibu Bupati, Hj Ika Acep Purnama, kita sudah melaksanakan sosialisasi pengelolaan sampah di delapan desa penerima TPS2 R,” ungkap Wawan.

“Mereka juga didorong untuk membangun bank sampah. Sehingga daya ekonomis dari sampah itu dapat tergali secara maksimal. Di wilayah perkotaan pun, kita dorong supaya kesadaran menabung sampahnya timbul,” imbuhnya. (muh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.