Mahapeka Tumbuhkan Kepedulian Alam dengan Sapu Gunung, Mendaki Jadi Lebih Bermakna

oleh -9 views
Para anggota Mahapeka UKM IAIN Syekh Nurjati Cirebon, saat berada di puncak Gunung Ciremai usai acara penyematan slayer orange terhadap anggota baru, akhir pekan kemarin. FOTO: IST

KUNINGAN-Ada yang berbeda dilakukan Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) UKM IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Terhadap anggota barunya, organisasi mahasiswa petualang ini menyematkan slayer orange kepada para anggota baru yang dilakukan di Puncak Gunung Ciremai, akhir pekan kemarin.

Acara penyematan slayer orange bagi anggota baru Mahapeka, ini sekaligus juga sebagai kegiatan wajib dalam rangka pengenalan alam. Mereka pun sekaligus melaksanakan kegiatan sapu gunung, yakni mengambil sampah-sampah untuk dibawa ke bawah.

Sedikitnya ada 25 anggota Mahapeka naik ke puncak Gunung Ciremai selama tiga hari, Jumat-Minggu (17-19/1). Ikut dalam pendakian ini, sejumlah pengurus UKM Mahapeka IAIN Syekh Nurjati Cirebon, serta sejumlah anggota kehormatan yang merupakan senior Mahapeka.

“Acara pendakian untuk penyematan slayer orange anggota Mahapeka ini kami laksanakan di Puncak Gunung Ciremai, sekaligus kami lakukan sapu gunung. Ini sebagai bentuk dari rasa syukur terhadap Sang Pencipta dan menumbuhkan rasa kepedulian akan alam,” kata Ketua Umum Mahapeka Cirebon Ahmad Rifai Ahlul Nazib, Senin (20/1).

Menurut Rifai yang memiliki nama lapangan Towar, saat ini kondisi alam yang sangat dicintai ini terus mengalami perubahan. Perubahan yang dilakukan manusia seringkali tidak berpihak pada kebaikan alam itu sendiri.

“Manusia sudah banyak yang tidak berpihak pada kebaikan alam. Contohnya sampah yang berada di sepanjang jalur pegunungan yang kerap dijadikan kegiatan pendakian oleh penggiat atau pencinta alam di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Untuk itu, kata Towar, Mahapeka terpanggil untuk ikut andil dalam memperhatikan kondisi tersebut, dengan melakukan kegiatan penyematan slayer orange di Gunung Ciremai jalur Apuy. Hal itu merupakan juga ciri khas Mahapeka sebagai identitas kebesaran organisasi. “Kegiatan ini juga merupakan kegiatan akhir di periode saya memimpin Mahapeka Cirebon. Jadi, harus dimaksimalkan, kalau baik kita ambil, tapi kalau tidak jangan,” tuturnya.

Dikatakan, semua bentuk organisasi memiliki atau menjalankan sebuah sistem. Hal itu dalam rangka untuk mengatur tahapan demi tahapan dalam prospeknya ke depan. Kemudian juga memberi warna baru untuk menjalankan organisasi, agar bisa lebih hebat dan bermanfaat untuk organisasi itu sendiri dan tentunya untuk masyarakat.

“Kami juga ingin menjadikan kegiatan mendaki lebih bermakna. Ini memang harus dilakukan oleh seluruh pendaki dengan sapu sampah. Kami mengajak untuk sama-sama membuktikan kecintaannya terhadap alam dengan membawa sampah saat kembali turun gunung,” ajak Towar didampingi anggota Kehormatan Mahapeka asal Kuningan, Ahdali Raweng. (muh)

No More Posts Available.

No more pages to load.