Libur Panjang, Jumlah Pendaki Ciremai Masih Normal

oleh -85 views
TURUN GUNUNG: Sejumlah pendaki Gunung Ciremai yang baru turun sedang beristirahat di warung dekat Pos Palutungan, kemarin (30/10). Foto: M Taufik/Radar Kuningan

KUNINGAN-Jumlah pendaki Gunung Ciremai di musim libur panjang saat ini ternyata tidak mengalami peningkatan signifikan di banding hari libur biasanya. Kondisi pandemi Covid-19 dan pertimbangan cuaca musim penghujan diduga menjadi penyebabnya.

Seperti terpantau di jalur pendakian Palutungan, selama dua hari kemarin ternyata jumlah pendaki tak lebih dari 150 orang saja. Padahal, saat libur panjang seperti ini biasanya jumlah pendaki yang sudah melakukan booking online sudah melebih batas kuota yang ditentukan.

“Hari Jumat ini yang naik lewat jalur Palutungan hanya 54 orang, sedangkan hari Kamis kemarin ada 61 orang. Masih jauh dari kuota maksimal untuk jalur palutungan, yaitu 149 orang atau sekitar 30 persen dari kuota maksimal 500 orang,” ungkap Arip Priatna salah satu petugas pengelola Pos Pendakian Palutungan kepada Radar, kemarin (30/10).

Arip menduga, kondisi pandemi dan cuaca ekstrem di awal pergantian musim ini menjadi alasan para pencinta alam menyalurkan hobinya mendaki Gunung Ciremai. Apalagi salah satu syarat untuk bisa melakukan booking online, para pendaki harus melampirkan foto hasil rapid test Covid-19.

“Informasinya biaya untuk rapid tes lumayan mahal. Bahkan lebih mahal dibanding tiket mendaki yang hanya Rp50.000 per orang,” ujar Arip.

Namun demikian, Arip mengatakan, kondisi cuaca ekstrem saat ini bisa jadi memengaruhi minat para pencinta alam mendaki Gunung Ciremai. Bahkan, kata Arip, dalam beberapa hari terakhir ini kawasan Ciremai sempat dilanda hujan deras disertai angin kencang yang membahayakan para pendaki.

“Kami selalu mengingatkan kepada para pendaki yang naik untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri. Apabila dalam perjalanan naik atau turun mendapat hambatan badai agar memilih berhenti dan berlindung. Jangan memaksa melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya,” ujar Arip.

Sementara itu Irfan Hidayat salah satu pendaki asal Depok mengatakan, kondisi pandemi tak menyurutkan minatnya naik gunung tertinggi Jawa Barat tersebut. Meski harus merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan rapid test sebagai syarat isa melakukan registrasi online, dia bersama tiga temannya akhirnya bisa menghabiskan tiga hari liburannya di Ciremai.

“Biaya rapid test di Jakarta Rp150.000 per orang. Lebih mahal dari tiket naik gunung yang hanya Rp50.000 ditambah PNBP Rp20.000. Tapi karena sudah rindu dengan Ciremai, saya ikuti persyaratannya. Saya berangkat hari Rabu dan baru turun hari Jumat,” ujar Irfan saat beristirahat di Pos Palutungan.

Irfan mengaku saat dalam perjalanan turun sempat mengalami kendala cuaca buruk sehingga memaksa dia dan teman-temannya kembali membuka tenda. “Baru Jumat pagi saat kondisi cuaca sudah normal, kami lanjutkan perjalan turun. Sempat salah satu teman kami mengalami keram perut, tapi alhamdulillah masih bisa melanjutkan perjalanan dan semuanya selamat,” ungkap Irfan. (fik)

No More Posts Available.

No more pages to load.