Lawan Mitos, Manfaatkan Kayu Kamboja Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

oleh -363 views
Apit Riadi membuat batang pohon kamboja menjadi indah dan bernilai ekonomi tinggi. FOTO:M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN-Pohon kamboja yang selalu dikaitkan dengan kesan angker dan menyeramkan ternyata tidak berlaku untuk Apit Riadi (44). Di tangan warga Desa Luragung Tonggoh, Kecamatan Luragung, ini batang pohon kamboja yang biasa tumbuh di tanah kuburan menjadi karya pahat patung yang indah dan bernilai ekonomi tinggi.

Berbagai karya Apit pun banyak diminati para kolektor benda-benda seni, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya patung ular naga yang kini tengah digarap Apit, telah dipesan Bupati Kuningan Acep Purnama, dan patung burung elang sudah dipesan oleh sutradara film Kuswara Sastra.

“Ada juga yang sudah dibeli artis ibu kota Rudy Choirudin dan orang Brunei Darussalam. Soal harga, saya tidak bisa sebutkan karena ini merupakan karya seni yang nilainya pun mungkin bagi seseorang mungkin dibilang murah, namun bagi kalangan lain menyebutnya terlalu mahal. Jadi kalau soal harga saya no comment,” ujar Apit saat berbincang dengan Radar Kuningan di teras rumah sekaligus galeri mini Apit, belum lama ini.

Apit mengaku baru mendalami seni pahat ini sejak tahun 2017. Bermula dari keperihatinannya melihat batang-batang pohon kamboja di tanah pekuburan Desa Luragung Tonggoh tergeletak begitu saja, bahkan nyaris dijual oleh pemerintah desa setempat karena dianggap sampah yang tak berguna.

“Awalnya saya iseng, membawa salah satu batang pohon kamboja tersebut ke rumah kemudian dipahat menjadi karya seni. Ada yang dibuat hiasan dinding, patung-patung binatang, ornamen kursi dan meja hingga rak pot bunga. Ternyata banyak tetangga yang bilang bagus,” ujar Apit.

Dari keisengannya tersebut, kemudian membawa karya Apit mengikuti sejumlah kegiatan pameran mewakili desa dan Kecamatan Luragung di tingkat kabupaten. Hingga akhirnya bertahap, karya Apit pun mewakili Kabupaten Kuningan mengikuti pameran di tingkat provinsi bahkan nasional.

“Yang membanggakan, ternyata saya terpilih oleh Kedubes Korasia untuk ikut pameran Wood Art Festival di Kroasia. Yang menjadi alasannya karena karya saya terbilang unik, yaitu menggunakan media kayu pohon kamboja,” tutur Apit.

Menurut Apit, alasan lain dia memilih kayu kamboja untuk karya pahatnya adalah untuk melestarikan pohon yang terbilang purba tersebut. Dia tak ingin keberadaan pohon kamboja hanya akan menjadi cerita bagi generasi mendatang. Banyak yang menganggap pohon kamboja sebagai pohon keramat dan menyeramkan, sampai-sampai ada yang memusnahkannya dari pekuburan untuk menghilangkan suasa seram.

Padahal, kata Apit, dari hasil penelusurannya ternyata pohon kamboja adalah tanaman purba, yang jika tidak dilestarikan maka keberadaannya hanya akan menjadi cerita untuk anak cucu kita kelak. “Saya juga ingin mengubah persepsi orang banyak tentang pohon kamboja yang katanya identik dengan mistik dan mahluk halus. Terbukti, sudah banyak batang pohon kamboja yang saya bawa pulang dan dipahat menjadi karya seni, ternyata saya tidak pernah diganggu mahluk gaib dan sejenisnya,” ucap Apit.

Menurut Apit, justru penggunaan batang pohon kamboja untuk karya seni pahat ataupun ukir ternyata mempunyai banyak keunggulan dibanding kayu lain seperti jati, mahoni, dan lainnya. Selain mempunyai tekstur kayu yang keras dan tidak mudah keropos oleh ngengat, ternyata kayu kamboja juga mempunyai pola dan garis kayu yang bernilai artistik yang sekalipun dibiarkan namun terlihat indah.

Kini, sejak dua tahun Apit menggeluti seni pahat kayu telah mengubah paradigma tentang pohon kayu kamboja khususnya bagi masyarakat Luragung Tonggoh. Bahkan Apit membuka kesempatan kepada para pemuda karang taruna di desanya serta para pelajar mulai dati tingkat TK hingga SMA untuk belajar memahat kayu kamboja tersebut.

“Setiap hari Sabtu dan Minggu biasanya banyak anak-anak yang belajar seni pahat di sini. Alhamdulillah misi saya menepis mitos melestarikan pohon kamboja yang terisolir mulai terlihat efeknya. Anak-anak muda tak lagi takut dengan pohon kamboja, bahkan mereka bisa berkreasi membuat karya yang cantik dan bernilai ekonomi tinggi,” pungkasnya. (fik)

No More Posts Available.

No more pages to load.