Indonesia Termasuk Frekuensi Gen Thalassemia Tinggi, Penderitanya 40 Persen di Jabar

oleh -5 views
Puluhan mahasiswa dan Popti Kuningan mengikuti kegiatan skrining thalassemia dan sosialisasi terkait penyakit thalassemia, di SC Uniku. FOTO:MUMUH MUHYIDDIN/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN-Bagi masyarakat awam, banyak yang belum tahu apa itu thalassemia. Karena kegiatan edukasi dan sosialisasinya tidak segencar penyakit lain. Padahal penyakit tidak menular ini pembiayaan kesehatannya cukup tinggi, sehingga perlu ada pencegahan dini.

PT Prodia Widyahusada Tbk kembali melaksanakan skrining thalassemia dan sosialisasi terkait penyakit thalassemia di Universitas Kuningan (Uniku), Rabu (16/10). Acara ini dihadiri Pembantu Rektor Uniku Ilham Adhya, Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Cabang Kuningan Dadi Rohandi, Corporate Secretary Assistant Manager Prodia Dinar Primasari, Branch Manager Prodia Cirebon Annisa Anggraeni, Unit Head Prodia Cabang Kuningan E Dwi Murwani, dan tim POPTI lainnya.

Skrining Thalassemia ini merupakan program CSR Prodia yang telah dilakukan secara berkelanjutan sejak tahun 2010. Dengan adanya skrining thalassemia ini, kami berharap dapat turut berkontribusi dalam memutus mata rantai thalassemia di Indonesia. Selain skrining thalassemia, kami juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai info kesehatan di berbagai kota di seluruh Indonesia,” ujar Corporate Secretary Assistant Manager Dinar Primasari kepada Radar Kuningan di sela acara.

Dijelaskan, thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetik, yang memiliki jenis dan frekuensi terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, 7% dari populasi dunia merupakan pembawa sifat thalassemia.

“Setiap tahun sekitar 300.000-500.000 bayi baru lahir disertai dengan kelainan hemoglobin berat, dan 50.000 hingga 100.000 anak meninggal akibat thalassemia. 80 persen dari jumlah tersebut berasal dari negara berkembang,” jelasnya.

Menurut Dinar, Indonesia termasuk salah satu negara dalam sabuk thalassemia dunia, yakni negara dengan frekuensi gen atau angka pembawa sifat thalassemia yang tinggi. Hal ini terbukti dari penelitian epidemiologi di Indonesia yang mendapatkan bahwa frekuensi gen thalassemia beta berkisar 3-10%. Saat ini, jumlah penderita thalassemia sekitar 40% berada di Jawa Barat.

“Komitmen Prodia dalam memutus mata rantai penyakit Thalassemia di Indonesia diwujudkan melalui sosialisasi dan edukasi ke masyarakat, terutama para pelajar sekolah menengah keatas dan universitas, dengan kegiatan skrining thalassemia di beberapa wilayah yang memiliki angka thalassemia yang tinggi,” tambah Dinar.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, pembiayaan kesehatan untuk thalasemia menempati posisi ke-5 di antara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke. Biayanya sebesar Rp225 miliar tahun 2014 dan menjadi Rp452 miliar tahun 2015. Pada 2016 menjadi Rp496 milyar, Rp532 miliar tahun 2017, dan sebesar Rp397 miliar sampai dengan September 2018.

“Kami berterima kasih kepada Prodia yang telah berkomitmen untuk melakukan kegiatan skrining Thalassemia setiap tahunnya. Sosialisasi dan edukasi mengenai seluk beluk penyakit thalassemia perlu terus dilakukan, terutama kepada generasi muda agar dapat mencegah penyebaran thalassemia,” tutur Dadi Rohandi, Ketua POPTI Kuningan. (muh)

No More Posts Available.

No more pages to load.