Diksi ”Limbah” Membawa Berkah, Nuzul Rachdy Menang di PTUN

oleh -23 views
AKUR: Ketua DPRD NuzulRachdy (keempat dari kiri), salam komando dengan Wakil Ketua DPRD H Dede Ismail, didampingi kuasa hukum, usai Majelis Hakim PTUN Bandung mengabulkan seluruh gugatan Nuzul Rachdy, kemarin.

KUNINGAN–Sekretaris DPC PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Nuzul Rachdy SE selama hampir setengah tahun menjadi sorotan publik, akibat diksi “limbah” yang ia lontarkan saat diwawancarai sejumlah media di DPRD, 30 September 2020 lalu.

Saat itu, Nuzul memberikan tanggapan atas melonjaknya kasus Covid-19 di Kuningan, salah satunya dari kluster pesantren. Dalam wawancara itu, keluar diksi “limbah” yang dialamatkan kepada salah satu pesantren ternama di Kuningan, sehingga beberapa hari kemudian rekaman video wawancaranya viral.

Gejolak mulai muncul lantaran banyak pihak merasa tersinggung dan tidak terima dengan pernyataan Nuzul tersebut, sehingga menyebabkan adanya beberapa kali gelombang aksi demonstrasi. Nuzul pun dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPRD, yang kemudian langsung memprosesnya dengan cepat.

Kesimpulan BK setelah menggelar beberapa kali persidangan, menjatuhkan sanksi sedang kepada Ketua DPRD Nuzul Rachdy, yang dianggap terbukti telah melakukan pelanggaran kode etik, dengan rekomendasi pemberhentian dari jabatan Ketua Dewan. Rekomendasi BK tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan sidang paripurna DPRD terkait pemberhentian Nuzul dari Ketua Dewan.

Merasa diperlakukan tidak adil, Nuzul pun melakukan perlawanan, dengan menggugat keputusan tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung. Hingga akhirnya dalam sidang putusan beberapa waktu lalu, Majelis Hakim mengabulkan seluruh gugatan Nuzul, sehingga keputusan BK dan paripurna DPRD, secara otomatis batal, dan harus dicabut.

Pihak tergugat, dalam hal ini BK yang diketuai dr H Toto Taufikurohman Kosim, menyatakan semua harus menghargai dan menerima putusan PTUN. Menurut dr Toto, Putusan PTUN tersebut akan menentukan langkah ke depan kasus Ketua DPRD Nuzul Rachdy yang cukup menghebohkan.

“Semua Putusan PTUN, kita akan hargai dan hormati, apapun yang terjadi putusannya. Mudah-mudahan masyarakat Kabupaten Kuningan juga bisa puas dengan putusan ini,” tegas dr Toto, sesaat sebelum sidang putusan digelar di PTUN Bandung.

Dengan telah keluarnya putusan hukum dari PTUN tersebut, Nuzul pun kembali melanjutkan kinerjanya sebagai Ketua DPRD Kuningan Periode 2019-2024. Untuk ke sekian kalinya, Nuzul menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kuningan, apabila dalam kasusnya selama ini mengganggu kenyamanan.

“Ke sekian kalinya, saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat Kuningan, apabila dalam kasus saya selama ini mengganggu kenyamanan,” kata Nuzul.

Nuzul pun mengaku banyak pelajaran yang dapat diambil oleh banyak pihak dari kasusnya yang menghebohkan tersebut. Kepada semua pejabat publik, termasuk dirinya sebagai Ketua DPRD, ia mengingatkan agar berhati-hati dalam menyampaikan diksi di depan publik.

Kepada pengambil keputusan, seperti pimpinan dewan dan BK, ia juga mengingatkan agar berhati-hati dan cermat dalam mengambil keputusan, tanpa intervensi pihak manapun.

“Kepada masyarakat, dalam menyampaikan pendapat sah-sah saja, sepanjang tidak memaksakan kehendak. Dan ke semuanya harus menghormati proses hukum,” tutur Nuzul.

Terkait adanya anggota BK yang pernah berjanji akan mengundurkan diri, ia mengaku tidak mempersoalkan masalah tersebut. “Yang janji bukan saya, jangan ditanyakan kepada saya,” singkatnya.

Seperti diketahui, Nuzul Rachdy merupakan salah satu politisi senior PDIP Kuningan yang sudah 4 periode menjabat anggota dewan, bersama tiga rekannya, yakni Rana Suparman SSos dan Apang Sujaman SPd. Tak heran, jika Nuzul Rachdy merupakan politisi tangguh, sehingga persoalan berat tersebut ia hadapi dengan penuh kesabaran.

Kesabarannya dalam menghadapi badai tersebut, ia tunjukkan dengan dengan tetap dapat berkarya. Antara lain menyelesaikan Pendidikan Lemhannas, meluncurkan buku auto biografi Tetirah Sang Pencerah, dan yang paling membuktikan ketangguhannya, yakni memenangkan seluruh gugatan di PTUN Bandung.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD H Dede Ismail SIP MSi, menegaskan tidak akan mempermasalahkan terhadap semua putusan PTUN tersebut. Ke depan, Deis-sapaan akrabnya- yang merupakan Ketua DPC Partai Gerindra Kuningan ini, menegaskan seluruh pimpinan DPRD wajib kompak kembali, karena para anggota dewan, ia mengistilahkannya sebagai tenaga outsourcing rakyat 5 tahunan.

Deis pun mengajak semua untuk menghormati putusan PTUN tersebut, karena Indonesia merupakan Negara berdasarkan hukum. Termasuk kalau memang nanti ada kepentingan-kepentingan politik dari perorangan ataupun kelompok orang, ia mempersilakan.

“Tapi semuanya sudah melalui tahapan di pusat. Kenapa? Karena saya tiap minggu saya berangkat. Dari tiga pimpinan, yang hadir (di persidangan PTUN Bandung) cuma saya saja,” pungkas Deis.

Sementara itu, sebagaimana tertuang dalam buku Nuzul Rachdy berjudul ”Tetirah Sang Pencerah”, yang diluncurkan belum lama ini, juga memuat sejumlah komentar tentang Nuzul Rachdy dari berbagai tokoh. Salah satunya disampaikan Ketua MUI Kuningan KH Drs Dodo Syarif Hidayatulloh.

Kiai Dodo mengaku teringat kembali saat suasana Pilpres 2004, yang kala itu PDIP mengusung Ketumnya Megawati Soekarno Putri sebagai Capres berpasangan dengan Ketum PBNU KH Hasyim Muzadi (alm) sebagai Cawapresnya.

“Kebetulan posisi saya saat itu sebagai Sekretaris Umum PCNU Kuningan. Duet dua tokoh nasionalis dan agama dalam Pilpres 2004 itu, menjadi wasilah saya kenal dengan para tokoh dan petinggi PDIP di Kuningan, setelah beberapa kali mengadakan pertemuan dan kegiatan. Salah satu tokoh sosok yang saya kenal saat itu Bapak Nuzul Rachdy,” kata Kiai Dodo, seraya mengatakan dirinya kembali menjalin hubungan baik dengan Zul, saat Zul menjadi Ketua DPRD Kuningan, dan masuk dalam kepengurusan MUI.

Saat terjadi gonjang-ganjing diksi “limbah” yang menyudutkan posisi dan harga dirinya, lanjut Kiai Dodo dalam buku tersebut, ia justru melihat Zul sebagai sosok yang tenang dan tulus, tetap tegar, tidak panik, dapat mengendalikan diri dan emosi, meskipun badai yang menerpanya sangat dahsyat. Betapa tidak, saat itu berbagai media lokal dan bahkan nasional memberitakan Zul, sehingga viral di dunia maya.

“Dalam acara klarifikasi, beliau dengan tulus menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang merasa tersinggung dengan diksi tersebut. Inilah sebenarnya bagian dari karakter seorang Muslim, dapat mengendalikan emosi, mau meminta maaf, dan mau memaafkan orang lain,” tutur Kiai Dodo.

Tentunya, lanjut Kiai Dodo, buku yang baru diluncurkan tersebut menjadi karya monumental yang mengabadikan perjalanan hidup yang dilalui oleh Zul, baik manis maupun pahit getirnya. Ia pun mengucapkan selamat atas penerbitan buku ini.

“Semoga buku ini menjadi kenangan hidup yang indah dan dapat menginspirasi dan memberi pencerahan kepada pembacanya, juga menjadi ibrah (pelajaran, red) dan mauizah (nasihat, red) bagi semua, terkhusus generasi mendatang,” harapnya. (muh/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.