Diding Wahyudin Pernah Jadi Kades, Punya Kerbau Bule Harganya Capai Rp50 Juta

oleh -30 views
BERI PAKAN: Diding Wahyudin sedang memberi pakan kerbau bule miliknya seharga Rp50 juta.

Siapa sangka seorang ASN Eselon III dengan jabatan Kepala Bidang di Bappenda Kuningan, justru memiliki aktivitas usaha di rumahnya. Usaha yang digeluti pun mungkin tak banyak diminati sebagian besar pejabat daerah, yakni sebagai peternak kerbau dan sapi.

Agus Panther, Kuningan

Dia adalah Diding Wahyudin. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Desa Cipakem Kecamatan Maleber, Kuningan. Dirinya terbilang sukses dalam mengembangkan usaha ternaknya.

Apalagi kini, Diding mempunyai kerbau unik karena secara fisik terlihat bule. Terlebih harganya cukup tinggi, sebab di bandrol dengan nominal Rp50 juta.

“Iya kerbau bule ini dijual seharga Rp50 juta. Kalau berat bobotnya itu 600 kilogram,” kata Diding, kemarin (14/7).

Dia menceritakan, apabila kerbau bule itu diberi nama Panunggal yang dirawat sejak berumur 10 bulan. Saat ini kerbau bule tersebut sudah berumur 4 tahun.

“Sejak saya merawat kerbau ini dari umur 10 bulan, kerbaunya asli dari Kuningan. Kerbau bule ini sudah lama umurnya dan jarang yang memerlukan, tapi kadang diperlukan oleh orang itu ketika ada ritual-ritual tertentu,” ungkapnya.

Disisi lain, Ia pun sudah cukup lama mengembangkan peternakan sapi. Apalagi menjelang lebaran Idul Adha ini, penjualan hewan kurban jenis sapi kadang tengah ramai-ramainya.

“Alhamdulillah di masa pandemi Covid-19 ini, kita sudah menjual untuk sapi sekitar 125 ekor dan kambing sekitar 160 ekor,” sebutnya.

Hanya saja, Ia mengakui, apabila penjualan di tahun ini menurun ketimbang tahun sebelumnya. Tak sedikit pemesan hewan kurban dari luar kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang hingga Bekasi.

“Memang kalau dibandingkan dengan tahun 2020, penjualan sapi maupun kambing tentunya ada penurunan. Tahun lalu itu untuk sapi bisa sampai di angka 300 ekor dan kambing 250 ekor,” terangnya.

Menurutnya, penurunan penjualan hewan kurban saat Idul Adha ini salah satunya imbas dari pandemi Covid-19. Sebab di hari biasa sebelum pandemi penjualan bisa tembus 300 ekor sapi.

“Kalau sekarang yang terjual baru 125 ekor sapi,” tukasnya.

Dia menjelaskan, harga setiap ekor sapi dibanderol mulai dari Rp15 juta hingga Rp52 juta. Adapun jenis sapi yang dijual yakni Simmental, Limosin, Brahman, Pegon maupun sapi lokalan.

“Kemudian untuk bobot sapi yang paling mahal harganya itu diatas Rp52 juta seberat 800 kilogram. Sementara untuk satu ton itu belum ada dan jenisnya pun susah,” ucapnya.

Terkait pengiriman hewan kurban ke luar kota, pihaknya telah menyiapkan surat kesehatan atau surat Tes Covid-19 bagi pekerjanya.

“Semua pekerja yang mengantarkan pesanan, kami siapkan untuk membawa surat Tes Covid-19. Kalaupun sedang diberlakukan PPKM Darurat, kami akan tetap mematuhi aturan yang berlaku,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.