Cinta Lingkungan, Sekda Pimpin Gowes untuk Bumi

oleh -8 views
PIMPIN GOWES: Sekda Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi memimpin rombongan gowes dari kawasan wisata Woodland Desa Setianegara, Cilimus menuju Bumi Seni Tarikolot Desa Sukamukti, Jalaksana, kemarin (26/9)..

KUNINGAN – Sejumlah komunitas pesepeda melakukan kegiatan gowes untuk bumi dengan mengampanyekan gerakan cinta lingkungan. Kegiatan gowes mengambil garis start di kawasan wisata Woodland Desa Setianegara, Cilimus menuju Bumi Seni Tarikolot Desa Sukamukti, Jalaksana.

Gowes dalam rangka milangkala Kuningan ini merupakan kerja bareng Pemkab Kuningan dengan komunitas Gocapan. Bahkan, Sekda Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi terlihat memimpin rombongan gowes mulai dari garis start hingga finis.

“Kegiatan ini sangat inovatif, karena membawa pesan bagaimana menggugah kesadaran dan prilaku kita untuk ikut serta menyelamatkan bumi. Seluruh peserta gowes diberi tumbler sebagai tempat minumnya, tidak lagi menggunakan air kemasan plastik dalam rangka pengurangan sampah plastik itu sendiri,” kata Sekda Dian, kemarin (26/9).

Pihaknya menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya acara gowes tersebut. Sebab, makna gowes untuk bumi yang terpenting adalah bagaimana selaku manusia memperlakukan alam, bersahabat dengan alam, merawat alam dan menjaga alam sehingga alam pun menjaga umat manusia.

“Berbagai bencana dan kerusakan alam seperti banjir bandang, tanah longsor dan kekeringan salah satunya adalah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Melalui rangkaian kegiatan gowes, pihaknya berharap, agar para komunitas gowes, masyarakat dan para penggiat lingkungan untuk berkomitmen serta bekerjasama dalam pengelolaan lingkungan hidup di Kuningan, khususnya yakni pengelolaan sampah.

“Mari kita ubah mindset kita untuk memperlakukan sampah secara arif dan bijaksana, karena ada istilah sampahku adalah tanggung jawabku dan sampahmu adalah tanggung jawabmu. Melalui even ini, mudah-mudahan acara gowes kedepan khususnya di Kuningan tidak menghasilkan timbulan sampah plastik lagi atau dengan kata lain zero waste cycling,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, media dan perguruan tinggi atau dengan sebutan penta helix menjadi suatu keniscayaan dalam keberhasilan pencapaian pembangunan, termasuk didalamnya soal pengelolaan sampah.

“Gowes untuk bumi ini merupakan salah satu media untuk kita melakukan kampanye, sekaligus edukasi guna meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab kita terhadap bumi. Momen ini mudah-mudahan bisa memberikan hikmah bagi kita, bagaimana meningkatkan kepedulian masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap alam,” ucapnya.

Dia menyebut, langkah yang dapat dilakukan yakni dengan memulai membatasi penggunaan plastik dengan menggunakan tumbler untuk menggantikan air kemasan plastik langsung, menggunakan paper bag sebagai pengganti kantong plastik, serta menghijaukan bumi dengan penanaman pohon.

Sementara Bupati H Acep Purnama mengajak, agar semua warga dari kota sampai ke desa untuk selalu berpikir, berbuat dan bertindak secara arif dan bijaksana terhadap alam sekitar.

“Kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan dan terus melakukan kegiatan yang positif untuk lestarinya alam dan lingkungan kita tercinta. Harus kita ingat, bahwa urusan pelestarian alam bukanlah masalah kecil karena menyangkut masa depan generasi kita. Pada saat kita mengubah dari minum air dalam kemasan plastik dengan menggunakan tumbler dan menanam pohon, artinya kita sedang menanam doa, menanam harapan, menanam kerja kita semuanya, untuk kelanjutan hidup generasi yang akan datang,” bebernya.

Menurutnya, timbulan sampah plastik setiap hari terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan gaya serta pola hidup masyarakat. Sampah plastik semakin beragam seiring dengan perkembangan teknologi makanan dan minuman modern.

“Apabila sampah anorganik seperti plastik tidak kita batasi, tidak kita kelola dan olah dengan baik, ini sangat berbahaya dan mencemari terhadap alam dan lingkungan kita. Karena jenis sampah ini tidak hancur dalam ratusan tahun,” tandasnya.

“Permasalahan sampah plastik masih menjadi permasalahan pokok yang mengakibatkan sumber pencemaran lingkungan. Namun ketika kita mau bekerjasama, bersinergi dan berkolaborasi, saya berkeyakinan sampah-sampah plastik ini dapat ditekan dan ketika dikelola akan memberikan dampak positif terhadap alam,” imbuhnya.

O0leh sebab itu, lanjutnya, langkah yang harus dilakukan yakni melalui pola 3R yaitu reduce (dibatasi/dikurangi penggunaannya), reuse (digunakan kembali) dan recycle (didaur ulang menjadi produk lain yang lebih bermanfaat).(ags)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.