50 Orang Ikut Sekolah Kebangsaan di Kuningan

oleh -31 views

KUNINGAN-Sediktnya 50 peserta dari wilayah 3 Cirebon mengikuti seminar kebangsaan yang digagas Organisasi Bhayangkara Nusantara (OBN).

Dalam seminar yang digelar selama 4 hari tiga malam akhir pekan kemarin tersebut, sekaligus dilaksanaan sekolah kebangsaan dan berlangsung di Hotel Montana Sangkanurip Kuningan.

Dewan Nasional OBN Herry Suprastowo mengatakan, di usianya yang menginjak tiga tahun, OBN agendaa sekolah kebangsaan merupakan kado terbaik dalam rangka mengembalikan jati diri bangsa Indonesia.

“Ada tiga poin yang dipelajari dari sekolah kebangsaan, bagaimana manusia bisa kenal diri, tahu diri dan jaga diri,” ujarnya.

Sekolah kebangsaan yang diadakan OBN, lanjut Herry, merupakan angkatan yang kesembilan. Pihaknya bekerjasama dengan Yayasan TIFA Foundation, yakni organisasi terbuka yang dalam visi misinya mempromosikan terwujudnya masyarakat yang terbuka pula, dalam rangka berkhidmat kepada ke-Bhineka-an, kesetaraan dan keadilan.

Adapun tujuan diselenggarakan sekolah kebangsaan tersebut, masih kata Herry, untuk menimbulakan serta membangkitkan kesadaran dan mengangkat kembali nilai kesadaran sebagai seorang warga Negara yang baik.

“Empat hari tiga malam mereka (peserta, red) digembleng. Adapun metode yang diberikan yaitu dengan metode vibrasi secara ilmiah atau akademis. Ada vibrasi atau getaran, yaitu tentang kecerdasan semesta dan meditasi tentang bagaimana menenangkan pikiran,” terangnya.

Herry berharap, dengan digelarnya sekolah kebangsaan tersebut, para peserta akan menjadi duta perubahan. Sehingga hal tersebut dapat memberi pengaruh yang baik tentang kesadaran nasionalisme, minimal di lingkungan keluarga.

“Sekolah kebangsaan ini berawal dari pemikiran saya dan kawan-kawan, karena nampaknya bangsa ini kehilangan jati diri. Merasa tidak ada yang merasa salah atau mengaku salah, merasa ada dalam posisi benar diantara yang benar,” tuturnya.

Indikasi dari hal tersebut, menurut Herry, antara lain munculnya radikalisme, tingkat hoaks dan sara. Dalam agama Islam ia mencontohkan secara sederhana, orang yang beriman apabila dibacakan ayat suci Al-Quran maka hatinya akan bergetar. Sehingga untuk secara umum di Indonesia, ketika ada nyanyian Indonesia Raya, maka hati akan bergetar.

“Kalau mengacu kepada lagu Indonesia Raya yang aslinya, itu adalah doa, bukan sekedar bernyanyi. Hari ini semua yang Pancasila adalah merah putih, tetapi yang merah putih belum tentu Pancasila,” jelasnya.

Dalam kegiatan sekolah kebangsaan itu disampaikan sejumlah materi setiap harinya. Para peserta pun penuh serius materi demi materi yang disampaikan, salah satunya disampaikan oleh Ade Sangkala selaku trainer dari Yayasan TIFA Foundation.

Keseluruhannya berkaitan dengan kondisi Bangsa Indonesia saat ini. Diharapkan dari sekolah kebangsaan ini bisa merajut kembali kebersamaan dan rasa nasionalisme. (muh)

No More Posts Available.

No more pages to load.