oleh

Katarak Penyebab Kebutaan Tertinggi pada Lansia

-Kuningan-53 views

KUNINGAN – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan angka kebutaan di Indonesia berada di posisi pertama di Asia Tenggara. Ironisnya, penyebab kebutaan tertinggi adalah karena katarak.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Klinik Mata Kuningan Eye Center (KEC) dr Achmad Budi Utomo dalam seminar Edukasi Katarak untuk anggota komunitas sosial Pagoda AB Plus Kuningan di Auditorium KEC belum lama ini.

Menurut Budi, gangguan penglihatan yang banyak diderita kaum lanjut usia tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Kuningan. Berdasarkan data BPS tahun 2015, jumlah penduduk Kabupaten Kuningan sebanyak 1,149 juta. Dengan asumsi 15 persen adalah berusia 50 tahun ke atas, berarti ada sekitar 173 ribu lebih warga Kuningan masuk dalam kelompok usia lanjut dan rawan terkena katarak.

“Jika prevalensi angka kebutaan akibat katarak suatu daerah sebesar 2,8 persennya. Artinya jumlah penderita katarak di Kabupaten Kuningan cukup tinggi yaitu mencapai 4.860 orang,” ungkap Budi.

Menurut Budi, kurangnya informasi dan kondisi geografis masyarakat yang tinggal di daerah pelosok, menjadi kendala permasalahan katarak ini sulit diatasi. Masih banyak pemikiran masyarakat yang beranggapan gangguan penglihatan akibat katarak adalah hal yang biasa terjadi saat memasuki usia tua dan tidak bisa disembuhkan. Padahal katarak bisa disembuhkan dengan cara operasi kecil dan prosesnya pun cepat antara lima hingga 15 menit saja. Katarak adalah penyakit gangguan penglihatan yang disebabkan karena terjadi kekeruhan lensa mata, sehingga untuk mengatasinya dengan cara membersihkan kekeruhan tersebut lewat jalan operasi kecil tadi.

Kendala lainnya, kata Budi, adalah informasi biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya operasi katarak yang terbilang mahal. Untuk masalah ini, Budi tidak memungkiri karena bisa mencapai Rp10 juta bahkan lebih untuk sekali operasi katarak.

“Tapi sekarang sudah ada BPJS yang akan menanggung semua biaya operasi katarak alias gratis. Dan sayangnya, ini pun masih belum banyak diketahui oleh masyarakat, terutama yang tinggal di daerah terpencil,” ujarnya .

Atas keperihatinan tersebut, lanjut Budi, Klinik Mata Kuningan Eye Center (KEC) berkeinginan turut serta mengatasi permasalahan katarak di Kabupaten Kuningan secara masif. Salah satunya dengan meluncurkan program Caang Saatos Poek (CSP). Klinik mata KEC menggandeng komunitas sosial Paguyuban Golongan Darah (Pagoda) AB Plus Kabupaten Kuningan untuk menjaring para penderita katarak di seluruh wilayah Kabupaten Kuningan agar bisa mendapat pengobatan secara gratis.

“Bila menemukan ada penderita katarak dari kalangan kurang mampu dan tidak mempunyai fasilitas BPJS, bisa dibantu untuk pengurusannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pagoda AB Plus Kuningan Riri Sugiri mengapresiasi program KEC tersebut. Riri menyebutkan, dengan jumlah anggota Pagoda AB Plus yang mencapai 400 orang lebih, siap menyukseskan program Caang Saatos Poek (CSP) membantu para manula di Kabupaten Kuningan penderita katarak kembali bisa melihat dan beraktivitas dengan normal.

“Alhamdulillah kami mendapat dukungan dari KEC untuk membantu masyarakat penderita katarak supaya bisa melihat lagi dalam program CSP ini. Insya Allah kami akan laksanakan kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya untuk kemanusiaan,” ujar Riri. (fik)