oleh

Wagub Jabar Sarankan Ulama Berperan dalam Politik

KUNINGAN – Peran ulama dalam perpolitikan di Indonesia, sebenarnya bukan hal baru. Semenjak dahulu, peran ulama dalam mendirikan bangsa Indonesia sudah banyak diakui. Sebut saja Jenderal Sudirman, Ki Hajar Dewantara, KH Hasyim Asy’ari, dan banyak tokoh lainnya. Merekalah contoh sosok guru ngaji atau ulama yang berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, mengatakan tidaklah mengherankan jika ulama saat ini pun harus terlibat dalam urusan politik. Atau bahkan Ulama itu sendiri yang mau menggeluti dunia politik praktis. Ulama yang aktif di bidang politik akan menjadi referensi umat dalam menentukan sikap politik.

Terlebih, sosok ulama adalah sosok yang dikenal sebagai pemandu umat (Islam) karena penguasaannya terhadap ilmu agama. Apalagi, ulama juga berpredikat sebagai pemimpin umat atau bahkan pewaris Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan dan menjalankan perintah Allah SWT.

“Kehadiran ulama dalam dunia politik akan menjadi referensi umat dalam menentukan pilihan politik. Pilihan politik akan sesuai dengan keimanan, ketaqwaan, dengan keilmuan agama. Maka mutlak dibutuhkan kehadiran ulama dalam event politik,” kata Uu Ruzhanul Ulum dalam rilis yang dikirimnya kepada Radar Kuningan, Jumat (26/6).

“Saya pernah masuk ke satu ponpes besar, saya minta dukungan. Kiai di sana malah bilang, Jang Uu akang ma bade ikhfa dina politik, bade nyelametken lembaga. Berbicara seperti itu, kami harap prinsip-prinsip seperti itu ada perubahan lah. Mohon maaf kepada ulama, kami bukan menggurui atau apa, tapi supaya kita punya keinginan diwadahi oleh tata negara,” tambah Uu yang juga Panglima Santri Jawa Barat.

Dengan aktifnya ulama dalam perpolitikan baik legislatif maupun eksekutif, maka menurutnya akan hadir keputusan yang sesuai keinginan para ulama. Pun keputusan yang didambakan para ulama itu akan terlindungi oleh Undang-Undang dan hukum ketatanegaraan.

Begitu pun dalam situasi dan dinamika politik saat ini, menurutnya terjadi karena ragam faktor dan berkat pergerakan para insan politik. Sehingga apapun dinamika yang terjadi saat ini, bukan jadi ajang antar golongan untuk saling menyalahkan. Justru dinamika inilah tantangan sekaligus ladang amal bagi para ulama untuk andil kedalam politik.

“Seandainya situasi hari ini ada hal yang tidak sesuai dengan hati dan nurani para kiai, jadi harapan kami para kiai harus terjun kembali ke dunia perpolitikan. Termasuk di dalamnya adalah politik praktis. Jangan menganggap bahwa urusan politik bukan urusan kiai, bukan urusan ajengan, sehingga kiai seolah-olah apriori dan dingin dalam dunia perpolitikan, hanya berfokus pada dunia tarbiyah, sementara siyasah ditinggalkan,” sarannya.

Kang Uu -sapaan akrabnya- mencontohkan bahwa di alam demokrasi setiap masyarakat memang bisa menyuarakan aspirasi. Bahkan dengan berbagai cara, sampai lewat aksi turun ke jalan. Tapi tetap saja, sebanyak apapun masa yang turun ke jalan, setiap aspirasi tetap harus berproses lewat jalur politik, yang oleh para pemangku kepentingan lah akhirnya suatu keputusan bisa diputuskan. Begitu juga aspirasi umat, yang pastinya akan lebih bermartabat lagi jika semuanya dapat diputuskan lewat jalur politik.

“Jadi, jangan menyalahkan orang lain kalau ada situasi politik yang dianggap para kiai tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Jangan sampai nasi sudah menjadi bubur baru teriak. Tapi dalam proses ‘mengolah nasi’ menjadi bubur para kiai apriori. Tidak ada cara lain kecuali dengan mekanisme yang diatur undang-undang yakni dengan proses politik,” tegas Kang Uu.

Kang Uu menambahkan, kalau sebaik-baiknya umat adalah umat yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, maka orang-orang yang berprinsip demikianlah yang harus aktif di perpolitikan. “Menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran juga harus dengan kewenangan dan daulah. Siapa yang punya kewenangan dan daulah (dalam tata negara) ialah eksekutif dan legislative,” timpalnya.

Maka, hadirnya sosok ulama dalam perpolitikan, juga hendaknya menjadi teladan bagi umat. Kehadiran ulama dalam politik, seharusnya bisa mewarnai politik kekuasaan menjadi harmonis, bukan malah menambah kontras permusuhan antargolongan atau antarpartai. Hal ini yang seharusnya diperhatikan oleh ulama.

Lewat jalur politik pula lah ulama dapat mengaktualisasikan kebaikan di hadapan umat. Jika seorang ulama itu ikut andil dalam dunia politik, maka tidak lain adalah untuk menjadi figur dan teladan yang baik, entah itu bagi tokoh politikus yang lain atau bagi umat.

Dalam salah satu keterangan pun menegaskan, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan pada seluruh aspek kehidupan, khususnya dalam kepemimpinan. Nabi Muhammad SAW lah contoh pemimpin negara yang ideal. Bahkan Ialah sosok paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan umat manusia.

Artinya Nabi SAW memiliki kecerdasan Siyasah, atau kecerdasan politik yang tinggi dalam mengelola, mengatur, dan menempatkan anggota masyarakatnya dalam mengelola kekuasaan. Sehingga dapat mencapai tujuan utama, yaitu membangun masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai llahi.

“Oleh karena itu saya berharap, para kiai jangan ragu aktif di dalam politik tapi tidak meninggalkan tugas pokok utama sebagai pengasuh pondok pesantren, atau bisa saja ada yang mewakili dari pesantren yang jadi bupati atau walikota, gubernur atau wakil, anggota dewan, ketua partai, dan lain- lain. Harapan kami seperti itu adanya,” pungkasnya. (muh)